Senin, 24 Januari 2011

POLIHIDRAMNION DALAM KEHAMILAN

polihidramnion _ hidramnion dalam kehamilan

Pengertian :
Hidramnion adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih banyak dari normal yaitu biasanya > 2000 cc.
Perjalanan Penyakit :
1. Hydramnion Akut
Terjadinya penambahan air ketuban sangat tiba-tiba/mendadak dan cepat dalam waktu beberapa hari saja. Biasanya terdapat pada kehamilan muda, bulan ke-4 atau atau ke-5 dan bulan ke-6. Komposisi dan air ketuban pada hydramnion menurut penyelidikan serupa saja dengan air ketuban normal.
2. Hydramnion Kronis
Banyak dijumpai pertambahan air ketuban terjadi perlahan- lahan dalam beberapa minggu/bulan dan biasanya terjadi pada kehamilan lanjut.
Frekwensi :
Yang sering kita jumpai adalah hydramnion yang ringan dengan jumlah cairan 2-3 liter sebanyak 80-85 %, 17 % sedang 5 % yang berat.
Hydramnion sering disertai dengan malformasi janin, khususnya malformasi sistem saraf pusat dan traktus gastro intestrinal. Hydramnion sering kita dapati bersamaan dengan :
a. Gameli atau hamil ganda (12,5 %)
b. Hidrops Foetalis
c. DM
d. Toxemia gravidarum
Asal air ketuban :
 Kencing janin (fetal urine)
 Transudasi dari darah ibu
 Sekresi dari epitel amnion
 Asal campuran (mixed origin)
Komposisi air ketuban :
98% air, sisanya terdiri atas garam anorganik serta bahan organik bila diteliti benar terdapat rambut lanugo, sel-sel epitel dan vernik caseosa. Protein ditemukan rata-rata 2,6%gr/liter sebagian besar sebagai albumin.
Peredaran air ketuban :
Dikemukakan bahwa peredaran liquor amni cukup baik, dalam 1 jam didapatkan perputaran + 500 ml.
Mengenai cara perputaran inipun terdapat banyak teori, antara lain bayi menelan air ketuban yang kemudian dikeluarkan melalui air kencing.
Prichard dan Sparr menyuntikkan kromat radioaktif ke dalam air ketuban ini. Mereka menemukan bahwa janin menelan + 8-10 cc air ketuban atau 1% dari seluruh volume air ketuban dalam tiap jam. Apabila janin tidak menelan air ketuban ini akan didapat keadaan hydramnion
Etiologi
Mekanisme terjadinya hydramnion hanya sedikit yang kita ketahui. Pada penyelidikan yang dilakukan tidak didapati kelainan pada epitel amnion yang dapat menyebabkan hypersekresi dari air ketuban. Secara logis dapat diterima sebagai berikut :
 Produksi tetap biasa  konsumsi kurang/nihil sehingga terjadi hidramnion, yaitu pengaliran air ketuban terganggu, air ketuban yang telah dibuat dialirkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu jalan pengaliran ialah ditelan oleh janin, diabsorpsi oleh usus dan digilirkan ke placenta, akhirnya masuk ke dalam peredaran darah ibu, jalan ini kurang terbuka kalau anak tidak menelan seperti pada atresia aesophage, anencephalus atau tumor-tumor placenta.
 Produksi hebat/meningkat  konsumsi biasa  hydramnion, yaitu produksi air ketuban bertambah; yang diduga menghasilkan air ketuban ialah epitel amnion, tetapi air ketuban dapat juga bertambah karena cairan lain masuk ke dalam ruangan amnion misalnya air kencing anak atau cairan otak pada anencephalus.

Predisposisi :
Walaupun etiologi tidak jelas, namun ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hydramnion antara lain :
1. Penyakit Jantung.
2. Nefritis.
3. Edema Umum (anasarka).
4. Anomali kongenital (pada anak).
Seperti anesefali, spina bifida, atresia/ strictura esofagas, hidrosefalus dan struma blocking oesefagus.
Dalam hal ini terjadi karena :
 Tidak ada stimulasi dari otak espina.
 Excessive urinary secretion.
 Tidak berfungsinya pusat menelan dan haus.
 Transudasi langsung dari cairan meninggal ke dalam amnion.
5. Simpul tali pusat.
6. Diabetes Militus.
7. Gameli uniovulair.
8. Malnutrisi.
9. Penyakit kelenjar hypofisis.
10. Pada Hydramnion biasanya plasenta lebih besar dan lebih berat dari biasa-karena itu transudasi menjadi lebih banyak-dan timbul hydramnion.
Diagnosis
a. Anamnesis
 Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa.
 Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak.
 Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat, maka terdapat keluhan-keluhan yang disebabkan karena tekanan pada organ, terutama pada diafragma, seperti : sesak (dispnoe) nyeri ulu hati dan sianosis.
 Nyeri perut karena tegangnya uterus/perasaan mau mual dan muntah
 Edema pada tungkai, vulva, dinding perut, sering kita jumpai.
b. Insfeksi
 Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat, retak-retak kulit jelas dan kadang umbilikus mendatar.
 Kalau akut si ibu terlihat sesak (dipsnoe) dan sianosis, serta terlihat payah membawa kandungannya.
c. Palpasi
 Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi edema pada dinding perut vulva dan tungkai.
 Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan sesungguhnya.
 Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya cairan.
 Kalau pada letak kepala, kepala janin bisa diraba, maka ballotement jelas sekali.
 Karena bebasnya janin bergerak dan kepala tidak terfiksir, maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin.
d. Auskultasi
Denyut jantung janin sukar didengar atau kalau terdengar halus sekali.
e. Rontgen Foto Abdomen
 Nampak bayangan berselubung kabur karena banyaknya cairan, kadang bayangan janin tidak jelas.
 Foto Rontgen pada hydramnion berguna untuk diagnostik dan untuk menentukan etiologi seperti anomali congenital (anesefali atau gameli).
f. Pemeriksaan dalam
Selaput ketuban teraba tegang dan menonjol walaupun diluar his.

Diagnosis Banding
Bila seorang ibu datang dengan perut yang lebih besar dari kehamilan yang seharusnya kemungkinan :
 Hydramnion
 Gameli
 Asites
 Kista ovarii
 Kehamilan beserta tumor

Prognosis
Pada janin prognosisnya agak buruk (mortalitas + 50 %) terutama karena :
 Kongenital anomaly.
 Prematuritas.
 Komplikasi karena kesalahan letak anak, yaitu pada letak lintang dan tali pusat menumbung, dll.
 Eritoblastosis.
 Diabetes Melitus.
 Solusio plasenta, kalau ketuban pecah tiba-tiba.
Pada Ibu, bisa terjadi komplikasi berikut :
 Solusio Plasenta
 Atonio uteri
 Perdarahan post partum
 Retensio plasenta
 Shock
 Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus menjadi lama dan sukar

Teraphy
Dibagi 3 Fase :
a. Waktu Hamil
 Hydramnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan berikan teraphy simtomatis.
 Pada hydramnion yang berat dengan keluhan-keluhan harus dirawat di RS untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam, obat-obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat diurisis. Bila sesak hebat sekali disertai sianosis dan perut tegang, lakukan fungsi abdominal pada kanan bawah umbilikus.
Tehnik
Dalam satu hari dikeluarkan 500 cc perjam, sampai keluhan berkurang. Kalau cairan dikeluarkan secara cepat dikhawatirkan terjadi his dan solutia plasenta, apalagi bila anak belum viable.
Komplikasi fungsi dapat berupa :
a. Timbul his.
b. Trauma pada janin.
c. Terkenanya organ-organ rongga perut oleh tusukan.
d. Infeksi.
e. Shock
Bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya jarum mengenai plasenta maka fungsi harus dihentikan.
Waktu Partus
 Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita menunggu.
 Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis, maka lakukan fungsi tranvaginal melalui servik bila ada pembukaan.
Teknik
Dengan memakai jarum fungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat maka air ketuban akan keluar pelan-pelan, boleh juga memakai troikar.
 Bila sewaktu pemeriksaan dalara ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masuklah tinju ke dalam vagina, sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar pelan-pelan.
Maksud semua ini supaya tidak terjadi solutio plasenta, syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum karena atonia uteri.
c. Post Partum
 Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum jadi sebaiknya dilakukan pemeriksan golongan dan transfusi darah/donor serta sediakan obat uterotonika.
 Untuk berjaga-jaga pasanglah infus sebagai profilaksis dan persiapan untuk pertolongan perdarahan post partum.
 Kalau perdarahan banyak dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang cukup.
Manajemen kebidanan dengan polyhidramnion

Langkah I
DS : Ibu mengatakan perutnya lebih berat dari biasa.
Ibu mengatakan sesak.
Ibu mengatakan nyeri pada ulu hati dan perut.
Ibu mengatakan mual dan muntah.
DO : - Inspeksi
o Perut ibu tampak lebih besar, tegang, mengkilat dan tampak retak-retak.
o Bila tidur telentang, perut tampak melebar ke samping.
o Ibu tampak meringis.
o Ibu terlihat sesak serta terlihat susah membawa kandungannya.
o Tampak edema pada vulva.
- Palpasi
o Perut teraba tegang serta terjadi edema pada dinding perut dan tungkai.
o Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilannya sesungguhnya.
o Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya cairan.
o Karena bebasnya janin bergerak dan kepala tidak terfiksir, maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin.
- Auskultasi
o DJJ sukar didengar atau kalau terdengar halus sekali.
- Pemeriksaan tambahan
o USG + rontgen.
o Nampak bayangan terselubung kabur karena banyaknya cairan, kadang-kadang bayangan janin tidak jelas.
o Foto rontgen pada hidramnion berguna untuk diagnostik dan untuk menentukan etiologi seperti anomaly congenital.
Langkah II
Diagnosa :
GPA + tua kehamilan + dengan hidramnion.
Masalah :
- Pada yang ringan pada umumnya hampir tidak terdapat keluhan.
- Pada yang sedang dan berat :
 Nyeri pada ulu hati dan perut.
 Sesak.
 Mual dan muntah.
Langkah III
 Solutio placenta.
 Atonia uteri.
 Perdarahan post partum.
 Partus lama.
Antisipasi penanganan :
 Istirahat yang cukup.
 Kurangi aktifitas.
 Penuhi gizi ibu selama kehamilan.
Langkah IV




Langkah V
Untuk ringan :
Jarang diberi therapy klinis, cukup diobservasi dan diberikan therapy simtomatis.
Untuk sedang dan berat :
- Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur.
 1 x sebulan sampai umur kehamilan 28 minggu.
 Atau bila ada keluhan segera ke pelayanan kesehatan terdekat.
- Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan.
- Beri penjelasan tentang keluhan sesak, nyeri, mual dan muntah yang dialami.
- Beri penjelasan tentang kebutuhan gizi ibu selama hamil.
- Pantau perkembangan janin dengan USG.
- Anjurkan ibu tidur dengan posisi yang diinginkan.
- Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup.
- Kolaborasi dengan dokter kandungan untuk melakukan :
• Fungsi abdominal
• Pemberian obat sedativa dan diuresis.
• Pemberian O2.
Langkah IV
- Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur :
• 1 x sebulan sampai umur kehamilan 28 minggu atau bila ada keluhan.
• 2 x seminggu sampai umur kehamilan yang 36 minggu atau bila ada keluhan.
• 1 x seminggu sampai bayi lahir atau bila ada keluhan segera ke pelayanan kesehatan terdekat.
- Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan.
- Memberi penjelasan tentang keluhan sesak, nyeri, mual dan muntah yang dialami yaitu :
• Sesak dan nyeri diakibatkan oleh pembesaran uterus sehingga terjadi tekanan pada organ terutama pada diafragma dan karena tegangan.
• Sedangkan pada mual dan muntah terjadi akibat penekanan pada lambung disebabkan pembesaran uterus yang berlebihan.
- Memberi penjelasan tentang kebutuhan ibu selama hamil dengan memberikan diet rendah garam.
- Memantau perkembangan janin dengan USG.
- Menganjurkan ibu untuk tidur dengan posisi yang nyaman menurut ibu dengan posisi semi fowler.
- Menganjurkan kepada ibu untuk istirahat yang cukup/sempurna.
- Melakukan kolaborasi dengan dokter kandungan dalam :
• Pemberian obat sedativa dan obat diuresis.
• Melakukan “fungsi abdominal”.
• Memberikan O2.

Langkah IV
S : Ibu mengutarakan sesak dan nyeri sudah mulai berkurang.
O : Ibu sudah tampak tenang.
A : GPA + tua kehamilan + dengan hidramnion.
Masalah sebagian telah teratasi.
P : Therapy dilanjutkan.

Referensi :
1. Obstetri Williams, Edisi 18, EGC.
2. Sinopsis Obstetri, Jilid I, Edisi II, EGC.
3. Ilmu Kebidanan, Sarwono Prawirohardjo.
4. Seri Skema Diagnosis dan Penatalaksanaan Obstetri, Edisi 2, Friedman, Acker, Sachs.
5. Obsteri Patologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar