Sabtu, 29 Januari 2011
Kamis, 27 Januari 2011
PENGKAJIAN ANAMNESA MASA NIFAS
I. KONSEP MASA NIFAS
DEFINISI MASA NIFAS
Masa nifas (Puerperium) adalah mulai partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Prawirohardjo, 2005).
Masa nifas (Puerperium) adalah periode dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan sebelum hamil, lama masa nifas ini 6 minggu (Farrer, 1999).
Pembagian Nifas (Nifas dibagi dalam 3 periode) :
- Puerperium Dini: Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 minggu.
- Puerperium Intermedial: Yaitu kepulihan yang menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
- Remote Puerperium: Yaitu waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk sempurna bisa berminggu-minggu, atau bulanan atau tahunan.
Perubahan-perubahan Fisiologi Masa Nifas yaitu:
- Perubahan fisik
- Involusi uterus dan pengeluaran lokia
- Perubahan sistem tubuh lainnya
- Perubahan psikis (Sarwono, 2002)
Pemeriksaan post natal antara lain meliputi :
- Pemeriksaan umum : TTV, keluhan dan sebagainya.
- Keadaan umum : kesadaran, selera makan dan lain-lain
- Payudara, ASI, putting susu
- Dinding perut, perineum, kandung kemih dan rektum
- Sekret yang keluar misalnya lokia, flour albus
- Keadaan alat-alat kandungan
PERUBAHAN YANG TERJADI PADA IBU NIFAS
A. Perubahan Fisik
A. Perubahan Fisik
1. Umum
Involusi adalah perubahan dalam prose kembalinya alat-alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil.
Involusi terjadi karena :
(1) Autolysis
Yaitu penghancuran jaringan alat-alat uterus yang di absorbsi dankemudian dibuang melalui ginjal , sehingga setelah melahirkan ibu sering miksi.
(2) Aktifitas otot – otot
Yaitu kontraksi dan retraksi setelah anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan placenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak keluar.
(3) Ischenemia (local anemia)
Yaitu kekurangan aliran darah ke uterus yang mengakibatkan jaringan otot mengalami atropi. Ketiga Faktor tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi sehingga memberikan dampak terhadap perubahan uterus kandung kemih ovarium, vagina, serviks dan dinding abdeomen (Ibrahim Cristina S, 1996 : 12).
Proses involusi secara normal dapat dilihat pada tabel berikut :
| Minggu | Involusi tinggi fundus uteri | Berat Uterus |
| Plaaasenta blm lahir | Setinggi pusat | 1000 gram |
| 1 minggu | 2 jari bawah pusat | 750 gram |
| 2 minggu | Pertengahan pusat syphisis | 500 gram |
| 6 minggu | Tidak teraba di atas syphisis | 350 gram |
| 8 minggu | Bertambah kecil | 50 gram |
Sumber : Synopsis Obstetri Jilid I, 1998 : 115).
Lochia
Lochia adalah cairan secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
Macam – macam Lochia , yaitu :
(1) Lochia Rubra (cruentra) :
Berisi darah segar dan sisa selaput ketuban sel-sel desi dua, vernix kaseosa, lanugo dan mekono\um selama dua hari pesca persalinan.
(2) Lochia Sanguinnolenta :
warna merah, kuning berisi darah dan lender, terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
(3) Lochia Serosa : warna kuning kecoklatan hari ke 7-14.
(4) Lochia Alba : warna keputihan 14 hari.
(5) Lochia Purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
(6) Lhociostatis: lochia keluarnya tidak lancar (Muchtar Rustam, 1998 : 116).
Ligamen – Ligamen
Ligaman fasia dan diafragma pelvis yang meregang waktu persalinan setelah bayi lahir secara berangsur menjadi kecil dan pulih. Sehingga tidak jarang uterus jauh kebelakang dan menjadi fleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendur setelah persalinan. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan dan gimnasik pasca persalinan.
Lactasi
Untuk menghadapi masa lactasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan – perubahan pada kelenjar mammae, yaitu :
(1) Proliferensi jaringan pada kelenjar aviola dan jaringan lemak berambah.
(2) Keluarnya cairan susu jolong dari duktus lactifecus disebut kolostrum warna putih kuning susu.
(3) Hypervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam dimana vena kondiolatasi tampak jelas.
(4) Setelah persalinan pengaruh sopresi estrogen dan progesterone hilang, maka timbul pengaruh hormone lactogenis (LH) atau prolaktatin. Disamping itu pengaruh oksitosin menyebabkan epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar, bermbah banyak sesudah 2-3 hari pac\sca persalinan. Bila bayi mulai menetek, isapan pada putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris, menyebabkan oksitisin dikeluarkan oleh hypophisis, produksi akan lebih sempurna disamping ASI merupakan makanan utama untuk bayi yang baik.
Perubahan pada organ lain
(1) Perubahan pada pembuluh darah rahim,
Yaitu kondisi dimana dalam kehamilan uterus mempunyai lebih banyak pembuluh darah yang besar, tetapi setelah persalinan tidak diperlukan lagi, maka pembuluh darah mengecil dengan sendirinya.
(2) Perubahan pada serviks dan vagina,
Yaitu setelah selesai kala II persalinan, serviks dan segmen bawah uteri menjadi tipis, kolaps dan kendor. Lama-lama mulut servix mengecil dan hanya bisa dilalui 2 jari saja. Pinggirnya tidak rata akibat robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui 1 jari saja, lingkaran intrasi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervikalis. Vagina pada akhir minggu ke – 3 ukuran normal yaitu rugai mulai tampak kembali.
(3) Perubahan di peritoneum dan dinding abdomen
Yaitu setelah persalian dinding perut longgar karena adanya regangan maka dalam 6 minggu akan pulih kembali.
(4) Perubahan pada saluran kencing
Yaitu perubahan yang terjadi akibat kandung kencing yang bertambah besar dan relative selama masa nifas maka akan menjadi penuh atau sesudah kencing masih ada urine rasional. Akhirnya mengalami dilatasi urether dalam waktu 2 minggu norma kembali (Ibrahim CH. S. ,1996 : 34).
Kebutuhan Dasar Masa Nifas
a. Pola Istirahat
Anjurkan ibu intuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. Kurang istirahat dapat mengurangi produksi asi , memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak pendarahan, menyebabkan depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayinya (Saifudin AB, 2002 : N – 25).
b. Pola Nutrisi dan Gizi
(1) Mengkonsumsi tambahan sebesar 500 kalori per hari. (2) Makan dengan diet berimbang agar protein, mineral dan vitamin terpenuhi. (3) Minum air putih 3 liter per hari. (4) Pil zat besi, untuk menambah kekurangan selama proses persalinan selama 40 hari pasca persalinan. (5) Minum kapsul vit A (200.000 unit) untuk bayi melalui asi nya (Saifudin AB dkk, N : 25).
c. Pola Miksi dan Defikasi
Pada masa nifas dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh baju, alas tempat tidup dan lingkungan terutama daerah genetalia untuk mencegah infeksi pada bekas episotomi dan jalan lahir, kebersihan mammae penting agar terhindar dari iritasi (Depkes RI, 1998 : 90).
d. Pola Latihan
Diskusikan dan latihan senam untuk mengembalikan otot – otot perut dan panggul untuk mengurangi rasa sakit pada punggung. (Saifudin AB, 2001 : 127).
Perawatan dan hal-hal yang terjadi selama nifas
1. Genitalia interna dan eksterna
2. Suhu badan pasca persalinan
3. Nadi
4. Hemokonsentrasi
5. Laktasi
6. Mulas
7. Serviks, uterus dan adneksa
8. Lokia
9. Miksi
10. Defekasi
11. Latihan senam
I. STANDAR ASUHAN KEBIDANAN
II.1 Pengertian Standar Asuhan Kebidanan :
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.
Dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.
STANDAR I : Pengkajian.
A.Pernyataan Standar.
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
B.Kriteria Pengkajian.
1.Data tepat, akurat dan lengkap.
2.Terdiri dari Data Subyektif (hasil Anamnesa; biodata, keluhan utama, riwayat obstetri,
riwayat kesehatan dan latar belakang sosial budaya).
3.Data Obyektif (hasil pemeriksaan fisik, psikologis dan pemeriksaan penunjang).
STANDAR II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan.
A.Pernyataan Standar.
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikan secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.
B.Kriteria Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan.
1.Diagnoa sesuai dengan nomenklatur kebidanan.
2.Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
3.Dapat diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
STANDAR III : Perencanaan.
A.Pernyataan Standar.
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan.
B.Kriteria Perencanaan.
1.Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien, tindakan segera, tindakan antisipasi dan asuhan secara komprehensif.
2.Melibatkan klien/pasien dan atau keluarga.
3.Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien/keluarga.
4.Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
5.Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.
STANDAR IV : Implementasi.
A.Pernyataan Standar.
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
B.Kriteria Implementasi.
1.Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultural.
2.Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien dan atau keluarganya (inform consent).
3.Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based.
4.Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan.
5.Menjaga privacy klien/pasien.
6.Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
7.Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan.
8.Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
9.Melakukan tindakan sesuai standar.
10.Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.
STANDAR V : Evaluasi.
A.Pernyataan Standar.
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien.
B.Kriteria Evaluasi.
1.Penilaian dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
2.Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan atau keluarga.
3.Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.
4.Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.
STANDAR VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan.
A.Pernyataan Standar.
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.
B.Kriteria Pencatatan Asuhan Kebidanan.
1.Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersediA
(Rekam Medis/KMS/Status Pasien/Buku KIA).
2.Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
3.S adalah data subyektif, mencatat hasil anamnesa.
4.O adalah data obyektif, mencatat hasil pemeriksaan.
5.A adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan.
6.P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif; penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up dan rujukan.
Selasa, 25 Januari 2011
anamnesa dan pemeriksaan obstetrik
SABTU, 17 OKTOBER 2009
Anamnesa dan Pemeriksaan Obstetri
dr.Bambang Widjanarko,SpOG
ANAMNESA & PEMERIKSAAN OBSTETRI
Keluhan utama yang pada umumnya menyebabkan ibu hamil mengunjungi sarana pelayanan kesehatan IBU dan ANAK adalah:
Berhubungan dengan masalah kehamilan
Memastikan adanya dugaan kehamilan.
Ingin mengetahui usia kehamilan.
Mual, muntah dan atau nyeri kepala.
Perdarahan pervaginam.
Keluar cairan pervaginam (air ketuban, leukorea?)
Merasakan gerakan anak yang kurang atau bahkan tidak bergerak.
Merasa akan melahirkan (inpartu).
Berhubungan dengan penyakit yang menyertai kehamilan
Penyakit infeksi.
Penyakit sistemik atau penyakit kronis yang sudah dirasakan sebelum kehamilan ini.
Berdasarkan atas keluhan utama diatas, dokter harus dapat mengembangkan anamnesa dan pemeriksaan fisik lanjutan untuk menentukan status kesehatan penderita dalam rangka perencanaan pengelolaan kasus lebih lanjut.
Sebelum memberikan pelayanan, klien harus dimintai persetujuannya ( “informed consent” ) untuk mencegah terjadinya konflik masalah etik pada kemudian hari.
Pelayanan antenatal bertujuan untuk mengetahui status kesehatan ibu hamil, konseling persiapan persalinan, penyuluhan kesehatan, pengambilan keputusan dalam rujukan dan membimbing usaha untuk membangun keluarga sejahtera.
Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya ibu sehingga dia merasa nyaman untuk membicarakan masalah dirinya kepada dokter.
Rasa nyaman dapat ditumbuhkan pada diri pasien bila :
Pemeriksaan dilakukan ditempat yang tertutup, bersifat pribadi dengan kerahasiaan yang terjaga dengan baik.
Apa yang dikatakan oleh ibu didengar dan diperhatikan secara baik.
Pasien diperlakukan dengan penuh rasa hormat.
1. ANAMNESA
Identitas pasien
Nama , alamat dan usia pasien dan suami pasien.
Pendidikan dan pekerjaan pasien dan suami pasien.
Agama, suku bangsa pasien dan suami pasien.
Anamnesa obstetri
Kehamilan yang ke …..
Hari pertama haid terakhir-HPHT ( “last menstrual periode”-LMP )
Riwayat obstetri:
Usia kehamilan : ( abortus, preterm, aterm, postterm ).
Proses persalinan ( spontan, tindakan, penolong persalinan ).
Keadaan pasca persalinan, masa nifas dan laktasi.
Keadaan bayi ( jenis kelamin, berat badan lahir, usia anak saat ini ).
Pada primigravida :
Lama kawin, pernikahan yang ke ….
Perkawinan terakhir ini sudah berlangsung …. Tahun.
Anamnesa tambahan:
Anamnesa mengenai keluhan utama yang dikembangkan sesuai dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan (kebiasaan buang air kecil / buang air besar, kebiasaan merokok, hewan piaraan, konsumsi obat-obat tertentu sebelum dan selama kehamilan).
2. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik umum
Kesan umum (nampak sakit berat, sedang), anemia konjungtiva, ikterus, kesadaran, komunikasi personal.
Tinggi dan berat badan.
Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh.
Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu.
Pemeriksaan khusus obstetri
Inspeksi :
Chloasma gravidarum.
Keadaan kelenjar thyroid.
Dinding abdomen ( varises, jaringan parut, gerakan janin).
Keadaan vulva dan perineum.
Palpasi
Maksud untuk melakukan palpasi adalah untuk :
Memperkirakan adanya kehamilan.
Memperkirakan usia kehamilan.
Presentasi - posisi dan taksiran berat badan janin.
Mengikuti proses penurunan kepala pada persalinan.
Mencari penyulit kehamilan atau persalinan.
PALPASI ABDOMEN PADA KEHAMILAN
Tehnik :
Jelaskan maksud dan tujuan serta cara pemeriksaan palpasi yang akan saudara lakukan pada ibu.
Ibu dipersilahkan berbaring telentang dengan sendi lutut semi fleksi untuk mengurangi kontraksi otot dinding abdomen.
Leopold I s/d III, pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan berdiri disamping kanan ibu dengan menghadap kearah muka ibu ; pada pemeriksaan Leopold IV, pemeriksa berbalik arah sehingga menghadap kearah kaki ibu.
Leopold I
Leopold I :
Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri.
Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.
Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus ( bokong atau kepala atau kosong ).
Leopold II
Leopold II :
Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri dan kanan umbilikus.
Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut jantung janin nantinya.
Tentukan bagian-bagian kecil janin.
Leopold III
Leopold III :
Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.
Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah mengalami engagemen atau belum.
Leopold IV
Leopold IV :
Pemeriksa merubah posisinya sehingga menghadap ke arah kaki pasien.
Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin.
Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin.
Menentukan tinggi fundus uteri untuk memperkirakan usia kehamilan berdasarkan parameter tertentu ( umbilikus, prosesus xyphoideus dan tepi atas simfisis pubis)
VAGINAL TOUCHER PADA KASUS OBSTETRI
Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan:
Sebagai bagian dalam menegakkan diagnosa kehamilan muda.
Pada primigravida dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk melakukan evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik) dan menentukan apakah ada kelainan pada jalan lahir yang diperkirakan akan dapat mengganggu jalannya proses persalinan pervaginam.
Pada saat masuk kamar bersalin dilakukan untuk menentukan fase persalinan dan diagnosa letak janin.
Pada saat inpartu digunakan untuk menilai apakah kemajuan proses persalinan sesuai dengan yang diharapkan.
Pada saat ketuban pecah digunakan untuk menentukan ada tidaknya prolapsus bagian kecil janin atau talipusat.
Pada saat inpartu, ibu nampak ingin meneran dan digunakan untuk memastikan apakah fase persalinan sudah masuk pada persalinan kala II.
Tehnik
Vaginal toucher pada pemeriksaan kehamilan dan persalinan:
Didahului dengan melakukan inspeksi pada organ genitalia eksterna.
Tahap berikutnya, pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan jalan lahir.
Labia minora disisihkan kekiri dan kanan dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dari sisi kranial untuk memaparkan vestibulum.)
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dalam posisi lurus dan rapat dimasukkan kearah belakang - atas vagina dan melakukan palpasi pada servik.
Menentukan dilatasi (cm) dan pendataran servik (prosentase).
Menentukan keadaan selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah, bila sudah pecah tentukan :
Warna
Bau
Jumlah air ketuban yang mengalir keluar
Menentukan presentasi (bagian terendah) dan posisi (berdasarkan denominator) serta derajat penurunan janin berdasarkan stasion.
Menentukan apakah terdapat bagian-bagian kecil janin lain atau talipusat yang berada disamping bagian terendah janin (presentasi rangkap – compound presentation).
Pada primigravida digunakan lebih lanjut untuk melakukan pelvimetri klinik :
Pemeriksaan bentuk sacrum
Menentukan apakah coccygeus menonjol atau tidak.
Menentukan apakah spina ischiadica menonjol atau tidak.
Mengukur distansia interspinarum.
Memeriksa lengkungan dinding lateral panggul.
Meraba promontorium, bila teraba maka dapat diduga adanya kesempitan panggul (mengukur conjugata diagonalis).
Menentukan jarak antara kedua tuber ischiadica.
Auskultasi
Auskultasi detik jantung janin dengan menggunakan fetoskop de Lee.
Detik jantung janin terdengar paling keras didaerah punggung janin.
Detik jantung janin dihitung selama 5 detik dilakukan 3 kali berurutan selang 5 detik sebanyak 3 kali.
Hasil pemeriksaan detik jantung janin 10 – 12 – 10 berarti frekuensi detik jantung janin 32 x 4 = 128 kali per menit.
Frekuensi detik jantung janin normal 120 – 160 kali per menit.
PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK
Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine).
Pemeriksaan laboratorium khusus.
Pemeriksaan ultrasonografi.
Pemantauan janin dengan kardiotokografi.
Amniosentesis dan Kariotiping.
10 KESIMPULAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN:
Sebagai kesimpulan hasil pemeriksaan kehamilan harus disebutkan 10 hal berikut dibawah ini :
Hamil atau tidak hamil ( berdasarkan tanda pasti kehamilan ).
Primigravida atau multigravida.
G (gravida ) ………P(para) 1 – 2 – 3 – 4.
Jumlah partus aterm (> 37 minggu/ berat anak > 2500 g).
Jumlah partus preterm (22 – 37 minggu / berat anak < 2500g )
Jumlah abortus ( < 20 minggu ).
Jumlah anak hidup saat ini.
Anak hidup atau mati.
Usia kehamilan ( aterm / preterm ……… minggu ).
Letak anak :
Situs : misalnya situs longitudinal.
Habitus : misalnya fleksi.
Posisi : misalnya punggung kiri dengan ubun-ubun kecil kiri melintang.
Presentasi : misalnya presentasi belakang kepala.
Kehamilan intra atau ekstrauterin.
Hamil tunggal atau kembar.
Inpartu atau tidak ( sebutkan tahapan persalinan)
Keadaan jalan lahir : tumor jalan lahir, hasil pemeriksaan pelvimetri klinik, cacat rahim pasca sectio caesar atau miomektomi intramural.
Keadaan umum ibu :
Komplikasi atau penyakit penyakit yang menyertai kehamilan atau persalinan ( misal: pre – eklampsia, anemia , hepatitis dsb nya )
Komplikasi persalinan ( misal : “secondary arrest” , kala II memanjang, gawat janin )
DIAGNOSA :
Diagnosa ibu :
misalnya :
G 1 P 0000 inpartu kala I fase aktif
(Penyulit kehamilan) Pre eklampsia berat dan anemia gravidarum
Diagnosa anak :
Misalnya : janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi belakang kepala.
TERAPI / SIKAP / TINDAKAN / RENCANA TINDAKAN & TINDAK LANJUT :
Misalnya :
Pasang infuse dan dauer katheter
Pemberian Mg SO4 dosis bolus dan dosis pemeliharaan
Observasi keadaan umum ibu (tekanan darah dan pernafasan , gejala subjektif, kejang, kesadaran, produksi urine
Observasi kemajuan persalinan ( detik jantung janin, kontraksi uterus, penurunan janin dan tanda-tanda ruptura uteri iminen - lingkaran Bandl)
Antisipasi terjadinya perdarahan pasca persalinan ( oleh karena pemberian MgSO4 dan adanya anemia gravidarum )
Buat partograf
Evaluasi 4 jam
Bila kemajuan persalinan berlangsung dengan normal, direncanakan untuk melakukan persalinan pervaginam dengan mempercepat persalinan kala II menggunakan ekstraksi cunam atau vakum.
PROGNOSA: penentuan prognosa meliputi prognosa ibu dan anak
Prinsip Obstetri :
Primum non nocere : merupakan sesuatu yang teramat penting adalah tidak membuat keadaan menjadi semakin buruk
Non vi sed arte : melakukan tindakan medis bukan dengan kekuatan fisik namun dengan ketrampilan
Penolong persalinan yang baik bukan hanya sekedar terampil dalam melakukan tindakan, akan tetapi juga yang mampu untuk mencegah terjadinya penyulit kehamilan dan atau persalinan dengan melakukan perawatan antenatal secara baik dan benar.
INGAT !!!
PEMERIKSAAN ANTENATAL YANG BURUK DAN DIKERJAKAN SECARA SEMBARANGAN JAUH LEBIH BURUK DIBANDINGKAN DENGAN TANPA PEMERIKSAAN ANTENATAL SAMA SEKALI
Sumber Bacaan :
Departemen Kesehatan RI : “Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar Berbasis Hak Asasi Manusia dan Keadilan Gender” Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga 2004.
Diposkan oleh B. Widjanarko di 05.39
http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/10/anamnesa-dan-pemeriksaan-obstetri.html
Anamnesa dan Pemeriksaan Obstetri
dr.Bambang Widjanarko,SpOG
ANAMNESA & PEMERIKSAAN OBSTETRI
Keluhan utama yang pada umumnya menyebabkan ibu hamil mengunjungi sarana pelayanan kesehatan IBU dan ANAK adalah:
Berhubungan dengan masalah kehamilan
Memastikan adanya dugaan kehamilan.
Ingin mengetahui usia kehamilan.
Mual, muntah dan atau nyeri kepala.
Perdarahan pervaginam.
Keluar cairan pervaginam (air ketuban, leukorea?)
Merasakan gerakan anak yang kurang atau bahkan tidak bergerak.
Merasa akan melahirkan (inpartu).
Berhubungan dengan penyakit yang menyertai kehamilan
Penyakit infeksi.
Penyakit sistemik atau penyakit kronis yang sudah dirasakan sebelum kehamilan ini.
Berdasarkan atas keluhan utama diatas, dokter harus dapat mengembangkan anamnesa dan pemeriksaan fisik lanjutan untuk menentukan status kesehatan penderita dalam rangka perencanaan pengelolaan kasus lebih lanjut.
Sebelum memberikan pelayanan, klien harus dimintai persetujuannya ( “informed consent” ) untuk mencegah terjadinya konflik masalah etik pada kemudian hari.
Pelayanan antenatal bertujuan untuk mengetahui status kesehatan ibu hamil, konseling persiapan persalinan, penyuluhan kesehatan, pengambilan keputusan dalam rujukan dan membimbing usaha untuk membangun keluarga sejahtera.
Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk menumbuhkan rasa percaya ibu sehingga dia merasa nyaman untuk membicarakan masalah dirinya kepada dokter.
Rasa nyaman dapat ditumbuhkan pada diri pasien bila :
Pemeriksaan dilakukan ditempat yang tertutup, bersifat pribadi dengan kerahasiaan yang terjaga dengan baik.
Apa yang dikatakan oleh ibu didengar dan diperhatikan secara baik.
Pasien diperlakukan dengan penuh rasa hormat.
1. ANAMNESA
Identitas pasien
Nama , alamat dan usia pasien dan suami pasien.
Pendidikan dan pekerjaan pasien dan suami pasien.
Agama, suku bangsa pasien dan suami pasien.
Anamnesa obstetri
Kehamilan yang ke …..
Hari pertama haid terakhir-HPHT ( “last menstrual periode”-LMP )
Riwayat obstetri:
Usia kehamilan : ( abortus, preterm, aterm, postterm ).
Proses persalinan ( spontan, tindakan, penolong persalinan ).
Keadaan pasca persalinan, masa nifas dan laktasi.
Keadaan bayi ( jenis kelamin, berat badan lahir, usia anak saat ini ).
Pada primigravida :
Lama kawin, pernikahan yang ke ….
Perkawinan terakhir ini sudah berlangsung …. Tahun.
Anamnesa tambahan:
Anamnesa mengenai keluhan utama yang dikembangkan sesuai dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehamilan (kebiasaan buang air kecil / buang air besar, kebiasaan merokok, hewan piaraan, konsumsi obat-obat tertentu sebelum dan selama kehamilan).
2. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik umum
Kesan umum (nampak sakit berat, sedang), anemia konjungtiva, ikterus, kesadaran, komunikasi personal.
Tinggi dan berat badan.
Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu tubuh.
Pemeriksaan fisik lain yang dipandang perlu.
Pemeriksaan khusus obstetri
Inspeksi :
Chloasma gravidarum.
Keadaan kelenjar thyroid.
Dinding abdomen ( varises, jaringan parut, gerakan janin).
Keadaan vulva dan perineum.
Palpasi
Maksud untuk melakukan palpasi adalah untuk :
Memperkirakan adanya kehamilan.
Memperkirakan usia kehamilan.
Presentasi - posisi dan taksiran berat badan janin.
Mengikuti proses penurunan kepala pada persalinan.
Mencari penyulit kehamilan atau persalinan.
PALPASI ABDOMEN PADA KEHAMILAN
Tehnik :
Jelaskan maksud dan tujuan serta cara pemeriksaan palpasi yang akan saudara lakukan pada ibu.
Ibu dipersilahkan berbaring telentang dengan sendi lutut semi fleksi untuk mengurangi kontraksi otot dinding abdomen.
Leopold I s/d III, pemeriksa melakukan pemeriksaan dengan berdiri disamping kanan ibu dengan menghadap kearah muka ibu ; pada pemeriksaan Leopold IV, pemeriksa berbalik arah sehingga menghadap kearah kaki ibu.
Leopold I
Leopold I :
Kedua telapak tangan pemeriksa diletakkan pada puncak fundus uteri.
Tentukan tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan.
Rasakan bagian janin yang berada pada bagian fundus ( bokong atau kepala atau kosong ).
Leopold II
Leopold II :
Kedua telapak tangan pemeriksa bergeser turun kebawah sampai disamping kiri dan kanan umbilikus.
Tentukan bagian punggung janin untuk menentukan lokasi auskultasi denyut jantung janin nantinya.
Tentukan bagian-bagian kecil janin.
Leopold III
Leopold III :
Pemeriksaan ini dilakukan dengan hati-hati oleh karena dapat menyebabkan perasaan tak nyaman bagi pasien.
Bagian terendah janin dicekap diantara ibu jari dan telunjuk tangan kanan.
Ditentukan apa yang menjadi bagian terendah janin dan ditentukan apakah sudah mengalami engagemen atau belum.
Leopold IV
Leopold IV :
Pemeriksa merubah posisinya sehingga menghadap ke arah kaki pasien.
Kedua telapak tangan ditempatkan disisi kiri dan kanan bagian terendah janin.
Digunakan untuk menentukan sampai berapa jauh derajat desensus janin.
Menentukan tinggi fundus uteri untuk memperkirakan usia kehamilan berdasarkan parameter tertentu ( umbilikus, prosesus xyphoideus dan tepi atas simfisis pubis)
VAGINAL TOUCHER PADA KASUS OBSTETRI
Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan:
Sebagai bagian dalam menegakkan diagnosa kehamilan muda.
Pada primigravida dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk melakukan evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik) dan menentukan apakah ada kelainan pada jalan lahir yang diperkirakan akan dapat mengganggu jalannya proses persalinan pervaginam.
Pada saat masuk kamar bersalin dilakukan untuk menentukan fase persalinan dan diagnosa letak janin.
Pada saat inpartu digunakan untuk menilai apakah kemajuan proses persalinan sesuai dengan yang diharapkan.
Pada saat ketuban pecah digunakan untuk menentukan ada tidaknya prolapsus bagian kecil janin atau talipusat.
Pada saat inpartu, ibu nampak ingin meneran dan digunakan untuk memastikan apakah fase persalinan sudah masuk pada persalinan kala II.
Tehnik
Vaginal toucher pada pemeriksaan kehamilan dan persalinan:
Didahului dengan melakukan inspeksi pada organ genitalia eksterna.
Tahap berikutnya, pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan jalan lahir.
Labia minora disisihkan kekiri dan kanan dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dari sisi kranial untuk memaparkan vestibulum.)
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dalam posisi lurus dan rapat dimasukkan kearah belakang - atas vagina dan melakukan palpasi pada servik.
Menentukan dilatasi (cm) dan pendataran servik (prosentase).
Menentukan keadaan selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah, bila sudah pecah tentukan :
Warna
Bau
Jumlah air ketuban yang mengalir keluar
Menentukan presentasi (bagian terendah) dan posisi (berdasarkan denominator) serta derajat penurunan janin berdasarkan stasion.
Menentukan apakah terdapat bagian-bagian kecil janin lain atau talipusat yang berada disamping bagian terendah janin (presentasi rangkap – compound presentation).
Pada primigravida digunakan lebih lanjut untuk melakukan pelvimetri klinik :
Pemeriksaan bentuk sacrum
Menentukan apakah coccygeus menonjol atau tidak.
Menentukan apakah spina ischiadica menonjol atau tidak.
Mengukur distansia interspinarum.
Memeriksa lengkungan dinding lateral panggul.
Meraba promontorium, bila teraba maka dapat diduga adanya kesempitan panggul (mengukur conjugata diagonalis).
Menentukan jarak antara kedua tuber ischiadica.
Auskultasi
Auskultasi detik jantung janin dengan menggunakan fetoskop de Lee.
Detik jantung janin terdengar paling keras didaerah punggung janin.
Detik jantung janin dihitung selama 5 detik dilakukan 3 kali berurutan selang 5 detik sebanyak 3 kali.
Hasil pemeriksaan detik jantung janin 10 – 12 – 10 berarti frekuensi detik jantung janin 32 x 4 = 128 kali per menit.
Frekuensi detik jantung janin normal 120 – 160 kali per menit.
PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK
Pemeriksaan laboratorium rutin (Hb dan urinalisis serta protein urine).
Pemeriksaan laboratorium khusus.
Pemeriksaan ultrasonografi.
Pemantauan janin dengan kardiotokografi.
Amniosentesis dan Kariotiping.
10 KESIMPULAN PEMERIKSAAN KEHAMILAN:
Sebagai kesimpulan hasil pemeriksaan kehamilan harus disebutkan 10 hal berikut dibawah ini :
Hamil atau tidak hamil ( berdasarkan tanda pasti kehamilan ).
Primigravida atau multigravida.
G (gravida ) ………P(para) 1 – 2 – 3 – 4.
Jumlah partus aterm (> 37 minggu/ berat anak > 2500 g).
Jumlah partus preterm (22 – 37 minggu / berat anak < 2500g )
Jumlah abortus ( < 20 minggu ).
Jumlah anak hidup saat ini.
Anak hidup atau mati.
Usia kehamilan ( aterm / preterm ……… minggu ).
Letak anak :
Situs : misalnya situs longitudinal.
Habitus : misalnya fleksi.
Posisi : misalnya punggung kiri dengan ubun-ubun kecil kiri melintang.
Presentasi : misalnya presentasi belakang kepala.
Kehamilan intra atau ekstrauterin.
Hamil tunggal atau kembar.
Inpartu atau tidak ( sebutkan tahapan persalinan)
Keadaan jalan lahir : tumor jalan lahir, hasil pemeriksaan pelvimetri klinik, cacat rahim pasca sectio caesar atau miomektomi intramural.
Keadaan umum ibu :
Komplikasi atau penyakit penyakit yang menyertai kehamilan atau persalinan ( misal: pre – eklampsia, anemia , hepatitis dsb nya )
Komplikasi persalinan ( misal : “secondary arrest” , kala II memanjang, gawat janin )
DIAGNOSA :
Diagnosa ibu :
misalnya :
G 1 P 0000 inpartu kala I fase aktif
(Penyulit kehamilan) Pre eklampsia berat dan anemia gravidarum
Diagnosa anak :
Misalnya : janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi belakang kepala.
TERAPI / SIKAP / TINDAKAN / RENCANA TINDAKAN & TINDAK LANJUT :
Misalnya :
Pasang infuse dan dauer katheter
Pemberian Mg SO4 dosis bolus dan dosis pemeliharaan
Observasi keadaan umum ibu (tekanan darah dan pernafasan , gejala subjektif, kejang, kesadaran, produksi urine
Observasi kemajuan persalinan ( detik jantung janin, kontraksi uterus, penurunan janin dan tanda-tanda ruptura uteri iminen - lingkaran Bandl)
Antisipasi terjadinya perdarahan pasca persalinan ( oleh karena pemberian MgSO4 dan adanya anemia gravidarum )
Buat partograf
Evaluasi 4 jam
Bila kemajuan persalinan berlangsung dengan normal, direncanakan untuk melakukan persalinan pervaginam dengan mempercepat persalinan kala II menggunakan ekstraksi cunam atau vakum.
PROGNOSA: penentuan prognosa meliputi prognosa ibu dan anak
Prinsip Obstetri :
Primum non nocere : merupakan sesuatu yang teramat penting adalah tidak membuat keadaan menjadi semakin buruk
Non vi sed arte : melakukan tindakan medis bukan dengan kekuatan fisik namun dengan ketrampilan
Penolong persalinan yang baik bukan hanya sekedar terampil dalam melakukan tindakan, akan tetapi juga yang mampu untuk mencegah terjadinya penyulit kehamilan dan atau persalinan dengan melakukan perawatan antenatal secara baik dan benar.
INGAT !!!
PEMERIKSAAN ANTENATAL YANG BURUK DAN DIKERJAKAN SECARA SEMBARANGAN JAUH LEBIH BURUK DIBANDINGKAN DENGAN TANPA PEMERIKSAAN ANTENATAL SAMA SEKALI
Sumber Bacaan :
Departemen Kesehatan RI : “Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar Berbasis Hak Asasi Manusia dan Keadilan Gender” Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga 2004.
Diposkan oleh B. Widjanarko di 05.39
http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/10/anamnesa-dan-pemeriksaan-obstetri.html
Langganan:
Komentar (Atom)